Gradasi Wujud dan Perfeksi Diri (Kelas Filsafat, Bidayah Al-hikmah)

Gradasi Wujud dan Perfeksi Diri
(Kelas Filsafat, Bidayah Al-hikmah)

Oleh : Ust. Alfit

Gradasi wujud mengajarkan kita bahwa Eksistensi itu terbentang dari wujud alam materi yang bertepikan ketiadaan, hingga wujud Tuhan, tepian yang tak bertepi; dari wujud yang paling tidak sempurna, hingga  sesempurnanya wujud.

Celakanya, manusia berada di level terendah eksistensi, alam materi. Namun menariknya, diantara entitas-entitas alam materi, hanya manusia yang mampu menempuh perjalanan lintas materi; sebuah gerak transenden (shu'udi) dari alam materi menuju alam non materi, dari kesempurnaan level rendah menuju kesempuraan tanpa batas.

Kata Rumi, aku mati sebagai benda, lalu hidup lagi sebagai tumbuhan. Aku mati sebagai tumbuhan, lalu hidup lagi sebagai hewan. Aku mati sebagai hewan, lalu hidup lagi sebagai manusia. Aku mati sebagai manusia, lalu hidup lagi menjadi sesuatu yang lain yang tak pernah terbayangkan.

Sementara menurut Mulla Sadra, manusia bukan spesies terakhir. Manusia adalah genus yang butuh pada diferentia. Dan setiap kita, sedang membentuk diferentia2 yang nantinya membedakan kita. Ada yang berdiferentia serigala, ada pula yang berdiferentia cahaya. Ada yang berdiferentia bentuk2 yang menakutkan, ada pula yang berdiferentia bentuk2 yang menenteramkan.

Walhasil, dengan memahami gradasi wujud, merugilah mereka yang tetap terjebak pada alam materi; mereka yang menjadikan kenikmatan materi sebagai puncak pencarian; mereka yang berparadigma materi, yang memandang Tuhan, surga dan segala kenikmatannya dengan pandangan materialistik. Sebuah bentuk duniaisasi ukhrawi.

Dan tentu, gerak transenden, gerak metamateri hanya mungkin ditempuh dengan terus menghamba hanya kepada-Nya. Dan itulah GERAK HARMONISASI.

~Alfit Lyceum
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama