MAXIMUS

Maximus

Mata saya selalu siap untuk seorang Maximus. Itulah mengapa meskipun dalam keadaan sakit, tayangan film ini selalu sayang untuk saya lewatkan. Ini kesekian kali saya menontonnya. Tak bosan menyaksikan kisah heroik Maximus Decimus Meridius, seorang petarung gladiator. Sebelumnya ia adalah jendral perang. Lalu jadi budak,  kemudian mengubah dirinya menjadi seorang petarung.

Bagi saya, Maximus tahu dan paham betul menunjukkan bagaimana sesungguhnya seorang petarung sejati. Ia tahu kapan  memutuskan masuk arena pertarungan, hal apa ia bertarung serta dengan apa atau dengan siapa ia bertarung.

Lihatlah ketika Maximus mampu membunuh Commodus, kaisar muda yang ambisius, berwatak jahat. Jika melihat kekuatan Commodus sebagai seorang kaisar, tentu saja mengalahkannya adalah hal yang mustahil. Semua kekuatan ia miliki. Namun Maximus juga punya hitungan lain.  Matang. Ia mengerahkan segala kemampuan yang sudah ia persiapkan sebelum ia bertarung. Sudah jauh hari. Maximus tak mau digoda. Ia percaya pada potensi dirinya.  Tidak  memikirkan cara curang atau menyalahi peraturan dalam arena pertarungan. Ia benar-benar seorang petarung.
****

Zaman telah berganti kisah gladiator telah ditelan bumi. Pun asal mula pertarungan gladiator tidak pernah diketahui secara pasti. Hanya melalui jejak Perang Punisia pada abad ke-3 SM, kisah itu  sedikit terungkap. 

Sosok Maximus yang diperankan Russel Crowe itu, di kekinian menjelma dalam reinkarnasi jiwa dan karakter petarung yang memenuhi rumah, jalanan, kantor, sawah, laut dan sebagainya. Selalu ada "petarung" yang menunjukkan dirinya memang layak disebut petarung. 

Setiap hari di luar sana, jutaan  ayah, ibu bertarung dengan hari, bertarung di segala lini kehidupan, mencari nafkah untuk menuntaskan gundah suami atau istri dan anak-anaknya. Bertarung dengan pedang waktu, panas matahari dan hujan. Menanggalkan semua kebutuhan pribadinya demi membuat anggota keluarga tersenyum ketika ia pulang ke rumah. 

Di kantor, di lembaga-lembaga pemerintah akan terus ada  jutaan pegawai setiap hari bertarung dengan godaan angka-angka di atas meja. Bertarung melawan rakus dan tamak yang setiap waktu selalu hadir. Bertarung dengan godaan mendapatkan jabatan dengan cara gampang, disaat jual beli jabatan adalah hal yang sudah lumrah terjadi di negeri ini. Bertarung mempertahankan konsistensinya, bahwa jabatan baginya akan datang karena kemampuan, potensi diri yang mumpuni, bukan pemberian atas nama uang dan hasil "jilat" sana-sini. 

Jutaan ayah dan pegawai seperti ini sesungguhnya adalah pemenang yang kelak akan  menulis sejarahnya sendiri dengan begitu manis. Sebagaimana Napoleon menulis ; sejarah hanya ditulis oleh seorang pemenang.

Bagi yang kalah, tak mampu bertarung, culas seperti Kaisar Commodus yang mati tertikam belatinya sendiri hanya bisa menerima kenyataan, ia dilupakan. 

Belopa, 28 November
Muhammad Nursaleh

baca di Facebook 
https://www.facebook.com/100001488390661/posts/2794835237242729/

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama